Akhirnya baru sempat posting di blog lagii, hehehe.. sudah sampai mana persiapannya? Hmm.. masih agak jalan di tempat sih, sebenernya. Maafkan diriku yang labil dan banyak mau, jadi susah mau nentuin vendor doang :p :p
Vendor pertama yang di-deal ya pasti vendor gedung yaa. Karena saya orangnya termasuk yang mesti dateng dan lihat sendiri gedungnya, baru bisa mutusin sreg apa nggak, makanya butuh 2 hari full buat survey gedung-gedung yang ada di list nyokap :p
Beberapa gedung yang di survey kemarin:
1. Ruang Yudhistira, Gedung Patra Jasa
Orang tua langsung jatuh cinta sama ruangan ini. Saya sendiri waktu itu gak terlalu memfavoritkan ruangan ini ya. Jadi waktu ngobrol sama staf marketingnya, dan liat-liat ruangan juga gak terlalu antusias. Ruangannya panjang, semi full karpet, dan chandelier-nya khas :) Tapi satu hal yang bikin saya agak nggak sreg, tirainya dominan, dan warnanya maroon-gold. Ini yang biasanya membuat pengantin yang mengadakan acara di patra jasa mau-nggak mau harus menyesuaikan dengan warna dekorasi yang sudah ada. Mungkin tidak masalah buat adat tertentu yang dominan warna pestanya maroon-gold. Tapi saya sendiri kurang suka kombinasi warna ini, dan menghindari warna ini sebagai tema pernikahan saya :(
2. Ruang Raflessia dan Ruang Mawar, Balai Kartini
Sejak awal gedung ini yang jadi pilihan pertama. Tapi setelah didatangi, malah jadi nggak sreg lagi. Ruang Raflessia terlalu besar untuk jumlah tamu saya, dan karpetnya terlihat sudah kusam :( Ruang Mawar lebih cocok untuk pesta saya, tapi ternyata harus naik tangga yang lumayan banyak. Ini yang jadi pertimbangan, karena akan banyak tamu sepuh. Selain itu, waktu kami berkeliling untuk melihat kamar tempat keluarga pengantin menginap, akses lift nya agak susah :(
Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah catering harus dari gedung. Waktu saya datang, sedang diadakan pernikahan jadi saya bisa lihat langsung perform dekorasi cateringnya. Sayangnya, dekorasinya ternyata minim sekalii. Saya, yang cukup concern masalah dekorasi pada pernikahan saya, jadi kepikiran. Kalau orang tua saya malah lebih memperhatikan masalah jumlah porsi catering yang didapat. Kesimpulan kami, untuk harga yang ditawarkan, kami bisa dapat 'lebih' di tempat lain. Jadi, Balai Kartini terpaksa dicoret..
3. Panti Perwira, Balai Sudirman
Ini gedung yang dari awal saya tidak suka, karena saya sudah sering datang ke nikahan teman di tempat ini, dan saya kurang suka dengan denah gedungnya. Menurut saya terlalu banyak tiang, jadi ruangannya sempit :(
Selain itu beberapa kali saya perhatikan, tangga samping sering dijadikan tempat duduk oleh para tamu. Sempat terpikir untuk menyiasati dengan menutup akses tangga dengan side wall kain, tapi ternyata tidak bisa. Kalau bahan pertimbangan orang tua sih lebih ke tempat parkir yang dirasa kurang, apalagi kalau ada pernikahan juga di Panti Prajurit. Jadi, coret Balai Sudirman..
4. Auditorium Binakarna, Hotel Bidakara
Kami datang saat staf marketingnya sudah pulang. Jadi kami cuma diberi list harga dan langsung lihat-lihat ruangannya (saat itu sedang ada pernikahan). Catering ternyata harus dari pihak Hotel. Saya lihat banyak komen kurang baik mengenai cateringnya dari internet. Ditambah ada masukan pengalaman yang kurang enak dari kerabat yang mengadakan nikahan di sini. Jadi, coret Bidakara..
5. Puri Ardhya Garini
Termasuk salah satu pilihan utama orang tua saya, walau sadar kapasitas ruangannya terlalu besar :p Tapi apa daya, ternyata saat mengobrol dengan staf marketingnya, katanya bulan Agustus 2014 mereka tutup untuk renovasi. Baiklahh.. mungkin belum jodoh. Coret PAG..
6. Gedung Pewayangan TMII
Ini pilihan utama saya jugaa.. Kakak saya menikah di sini, dan sejak itu saya bercita-cita menikah di sini juga. Tapi orang tua saya justru nggak mau menggunakan vendor yang sama seperti kakak saya. Ditambah lagi, sekarang gedung pernikahan di area TMII memang tambah banyak, jadi jalanannya macet banget, apalagi hari Sabtu :( Jadi, terpaksa coret Gedung Pewayangan.. :(((
7. Sasana Kriya TMII
Ini kami datangi pure karena penasaran. Gedung baru, sih. Tapi kurang sreg karena terlalu 'modern' (soalnya saya mau pakai adat jawa tradisional). Corett...
Akhirnya pilihan jatuh ke Patra Jasa. Orang tua saya butuh waktu agak lama membujuk saya untuk mau melepaskan Gedung Pewayangan. Hehehe.. Satu hal yang membuat saya akhirnya mengalah dan setuju menggunakan Patra Jasa, adalah kenangan saya dan calon suami di sana.
Pertama kali saya datang ke Ruang Yudhistira adalah pada pernikahan teman kantor saya, dan itu pertama kalinya saya bawa calon suami (waktu itu bahkan jadi pacar saja belum :p) untuk dikenalkan ke teman-teman kantor. Saya ingat betul, waktu itu sedang enak-enaknya makan, dan si Tuan R ini ujug-ujug berpaling ke saya dan berkata, "Kita kapan ya, (menikah) kaya gini?" Saya langsung tersedak. Perlu diingat sekali lagi, waktu itu kami pacaran saja belummm. Tuan R memang suka 'selangkah lebih maju' pikirannya.. -____-"" Kalau diingat sekarang, mungkin itu 'tanda' karena ruangan itu memang akan jadi ruangan yang penting buat saya dan Tuan R yaa, Insya Allah :')